Homogenic PDF  | Print |  E-mail
INTERROGATIONS & INTERVIEWS

You and Homogenic. Bayangkan hari itu adalah hari minggu sore, dan kita sedang berada di sebuah rumah pantai dengan mereka, larut dalam sebuah perbincangan panjang. Dari hal-hal yang konyol, hingga sesuatu yang bermakna filosofis. Terkadang kita tertawa geli. Terkadang sebuah makna yang terucap membuat kening kita berkerut. Dan berpikir lama dalam keheningan. Pada akhirnya, momen itu akan menjadi momen yang sangat menyenangkan. Satu hal yang pasti patut diketahui: Homogenic for bagi Dina, Dea, Manda dan anggota keluarga yang lainnya, band ini menjadi sebuah kebutuhan, seperti takaran obat yang harus dikonsumsi setiap harinya, karena mereka hidup di dalamnya.

 

Let’s back to basic for a while. How did you joined Homogenic?

Dina: How did i join? i create this all.

Dea: Dalam proses pembuatan debut album “Epic Simphony” (2004), Dina ngajak saya untuk bergabung sebagai produser. Pada saat itu saya sadar, banyak kesamaan visi, karena saya pikir materi yang dina punya itu saat itu bagus banget. Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk berkontribusi secara penuh di Homogenic sebagai official line up.

Manda: It happened in one click. Pada waktu itu At first Dina menghubungi saya dan bilang kalau Homogenic lagi nyari vokalis baru. Dalam prosesnya, setelah selesai membuat trial lagu-lagu mereka versi saya, ngobrol panjang lebar, sama-sama share tentang visi kedepannya, from that moment, magic happens.

 

How meaningful Homogenic is for you?

Dina: Homogenic is my lifetime affair. Saya ga bisa dengan mudahnya mengabaikan kepentingan Homogenic. Apapun itu, Homogenic menjadi salah satu prioritas utama saya. Saya jarang membuka bebas pemikiran-pemikiran pribadi saya depan umum, tapi ketika orang mendengarkan lagu-lagu saya dan lirik-liriknya, saya merasa telanjang.

Dea: Lebih dari sekedar band sih, yang pasti. Sesuatu yang membuat saya seperti sekarang ini. Orang-orang yang berada dalam lingkaran Homogenic sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Momen pergantian personel dalam Homogenic adalah momen yang menurut saya cukup langka. Karena Risa sampai sekarang juga masih bagian dari keluarga Homogenic. Pada intinya sih, Homgenic sebenarnya bagi saya adalah kombinasi yang pas antara hubungan profesional dan persahabatan yang loyal.

Manda: It’s feel like i finally found a perfect harbor for my 'desire ship'. Homogenic adalah rumah baru saya, keluarga baru saya, kehidupan baru saya, dan saya siap untuk melakukan perjalanan dalam bermusik bersama mereka, in good or bad.

 

Homogenic is clearly a piece of art, adakah karya-karya tertentu, baik artwork maupun film atau design pada tahun-tahun terakhir ini, yang bisa memberikan gambaran atas karya Homogenic?

Dina: Saya percaya, art adalah sesuatu yang personal, dan kalau sudah menyangkut sesuatu yang “well-designed”, akan terlintas di benak kita tanpa perlu untuk berkontemplasi. Ada beberapa karya yang bisa menginspirasi saya dalam proses kreatif, seperti film “Dancer In The Dark”, “Science of Sleep”, “Lost In Translation” atau buku-buku seperti “Kill The Radio”, “The Alchemist”, tapi karya paling berharga yang menurut saya bisa merepresentasikan Homogenic adalah cerita kehidupan manusia itu sendiri.

Dea: Saya mengagumi film-film atau graphic novels yang memberikan kesan mendalam. Saya biasa menerjemahkannya pada komposisi musik, agar dapat menciptakan ambients yang sama dengan kesan yang saya dapatkan dari adegan-adegan tersebut. Film-film Michaels Gondry,Stanley Kubrick, and Michael Moore, atau Judd Apatow dengan humor kasarnya. Untuk graphic novels, selain The Evangelion Saga, Saya mengagumi karya-karya Naoki Urasawa, khususnya kolaborasi geniusnya dengan Osamu Tezuka.

Manda: Ketika di satu sisi lagu-lagu Homogenic memiliki interpretasi yang bermacam-macam, di sisi lain Homogenic sebenarnya mengingatkan saya pada karya-karya simple, dengan pesan yang mudah dicerna. “Serendipity” the movie, The Bird and The Bee, bahkan kamus Bahasa Indonesia kuno atau percakapan diantara sepasang kekasih. Karya-karya seperti itulah yang seakan sejalan dengan karya-karya Homogenic.

 

Homogenic melakukan banyak kolaborasi pada saat ini, and they’ve always been fairly eyebrow-raising (in a good way). Pernahkah mempertimbangkan untuk melakukan kolaborasi lainnya? Like what you did with 12 authors in the 3rd album.

Dea: Iya dong! Sebuah karya akan terbentuk dengan sempurna dengan bantuan yang maksimal. Kolaborasi dengan seniman-seniman lain dapat membantu pendengar untuk lebih mengerti pesan yang disampaikan musik Homogenic sebagai karya yang seutuhnya.

Dina: Kita selalu percaya dengan kekuatan kolaborasi, dan kita psti akan melakukannya lagi nanti. Tapi kita juga butuh waktu untuk fokus kepada mereka yang sudah mau berkolaborasi dengan kita saat ini, karena kolaborasi tidak akan pernah sempurna tanpa ada kelanjutan cerita dari kolaborasi itu sendiri. Jangka pendeknya, kita akan memaksimalkan proyek-proyek kolaborasi yang sudah kita kerjakan, seperti 12 penulis bertalenta yang sudah kita ajak untuk bekerja-sama.

Manda: Ya, dan harapan saya nanti, tentunya selain penulis, Homogenic dapat membuat terobosan-terobosan baru dengan membuat proyek-proyek kolaborasi dengan sesuatu yang diluar dugaan.

 

Is the music as fun to make as it is to listen to?

Dina: Sangat. Setidaknya saya tidak akan membuat lagu yang tidak saya suka. Ambien yang datang dari lagu yang didengarkan, merepresentasikan proses kreatifnya secara bersamaan. Membuat sebuah lagu bukan hanya menulis lirik dan arranging music, tapi memberikan sentuhan jiwa ke dalamnya.

Dea: Sebenarnya itu bukanlah dua hal yang sama. Kadang, kita bisa merinding ketika menikmati sebuah lagu sampai kita ingin membaginya dengann orang lain. Di sisi lain, ketika kita menciptakan musik yang baik dan menikmatinya, selain kita dapat merasakan hal yang sama, namun ada kebahagiaan lain yang kita rasakan, karena ada orang lain merasakan that “shiver” moment ketika mendengarkan karya yang kita ciptakan.

Manda: Saya sih melihatnya dari pertanggung-jawaban. Kita mendapatkan rasa enjoy ketika mendengarkan karya musik seseorang, tapi ketika kita menciptakannya, kita memiliki tanggung jawab lebih. Dari inspirasi, pertanggung-jawaban proses detail kreatifnya, hak ciptanya, sampai pesan yang disampaikan dibalik lagu yang kita ciptakan.

 

What is "Hope and Change" from your point of view?

Dina: “Hope and Change” adalah sebuah pesan yang ingin kita sampaikan di album yang terbaru. Pesan kepada para pendengar dan penikmat karya kita. Sesederhana sebuah pesan singkat, namun begitu penting, sepenting sebuah info alamat rumah. Hope and Change adalah sebuah tagline yang bersahaja, namun ditujukan agar bisa memberikan aura positif agar kehidupan seseorang lebih baik dari yang selanjutnya.

Dea: Jangan pernah takut untuk berharap akan sesuatu, dan selalu berhasil menghalau rasa keenganan untuk menghadapi perubahan. Kita tidak muluk-muluk membayangkan “Hope And Change” menjadi suatu kampanye nasional yang besar. Kita hanya ingin setiap orang sadar bahwa perubahan sekecil apapun adalah perubahan, yang bisa berdampak besar pada kehidupan kita, dan kita ingin pesan tersebut menular. That's how good things are working, starting right from a personal level, at the very basic.

Manda: Sebuah learning progress dalam kehidupan, dimana kita sebagai manusia mau mengerti dan mau menghadapi keraguan, membangun keyakinan yang baik untuk kita, mengangkat dan menuntun kita menuju jalan yang lebih baik dari sebelumnya.

 

Sekuat apa kepribadian yang kalian punya dalam Homogenic yang membuat Homogenic menjadi berwarna?

Dina: Rasa chemistry diantara kita. Kita semua memiliki karakter yang berbeda-beda satu sama lain, dan bagian terberatnya adalah bagaimana kita menanggulanginya satu sama lain. Diluar itu semua, Homogenic bukan hanya sekedar band. Kita berbicara secara personal, kita menyayangi satu sama lain, dan menikmati kebersamaan tanpa selalu berbicara soal musik. Kita adalah keluarga. Mungkin itu adalah alasan kenapa musik kita bisa berwarna.

Dea: Homogenic tidak hanya saya, Dina, Manda. Ada banyak orang yang terlibat dan masuk dalam lingkarannya. Additional players, teman-teman label, orang-orang yang mengurus management Homogenic, talent-talent yang berkolaborasi dengan kita untuk waktu yang cukup lama. Masing-masing pribadinya memiliki pribadi dan pendekataan yang berbeda-beda untuk sebuah pencapaian, maka itu menjadi sebuah tantangan, bagaimana caranya agar kita dapat mensinkronisasikan itu semua. Dan saya yakin, waktu dan pengalaman membuat fondasi kita semakin kuat dari sebelumnya.

Manda: Homogenic for me is a perfect package. Kehidupan yang berbeda-beda, pemikiran yang berbeda-beda, minat yang berbeda-beda, dan yang menyatukan itu semua adalah sebuah fakta bahwa kita memiliki visi yang sama dengan ketidaksempurnaan kita dan nilai-nilai yang berharga.

Dan akhirnya, pada akhir pembicaraan, salah satu dari mereka berkata , “See you on the next story, my friend”. Till we meet again, shall we?

[interview.Maradilla Syachridar / photo.Homogenic docs]