| Marcel (Sajama Cut) | | Print | |
| INTERROGATIONS & INTERVIEWS |
|
Sebuah interview singkat dengan frontman Sajama Cut, Seorang indierocker asal ibukota yang mengkoleksi Vinyl secara masif dan menaruh Robert Pollard di sebuah pedestal. Simak perbincangan saya mengenai Ahmad Dhani, Hedonisme, meminum Absinthe, dan mendengarkan Disintegration-nya The Cure sambil menggunakan eyeliner.. Halo Marcell! Selain menjadi singer/songwriter utama, Kamu ngapain aja sih di Sajama Cut? Gue terlibat dengan konsep-konsep visual kita, termasuk kover album, website, poster, video, dan merchandising. Gue juga mengaransemen dan co-produksi lagu-lagu kita, khususnya lagu-lagu baru yang butuh jauh lebih banyak proses pre-produksi. Menarik. Hmm.. Saya selalu penasaran kenapa lo banyak ngambil tema-tema yang sangat Jepang di album 2005 Sajama Cut, Osaka Journals. Emangnya pernah tinggal disono ya? Itu cuma analogi yang kita pergunakan saat itu. Sekitar tahun 1997, Weezer merilis Pinkerton yang didasari opera Madame Butterfly. Itu adalah awal perkenalan gue dengan Puccini dan karya-karyanya. Waktu kita mulai menulis lirik-lirik untuk Osaka, gue dapat satu kopi audiobook Madame Butterfly dari salah satu teman gue. Dan gue rasa buku secara langsung mempengaruhi metafor-metafor Jepang yang kita pakai di album The Osaka Journals – mungkin karena nostalgia dengan akhir tahun 90-an, atau mungkin karena memang cocok dengan emosi yang mau gue intrepetasikan. Gue gak pernah tinggal di Jepang secara permanen, itu cuma salah satu mitos yang keluar dengan dirilisnya album itu. Gue memang pernah tinggal untuk waktu yang relatif lama di Tokyo, tapi bukan secara permanen. Kalau dipikir, gue bisa aja dapat buku tentang Caligula saat itu, dan menggunakan analogi-analogi hedonisme. Bahkan, kalau ditelaah, itu jauh lebih menarik daripada lampu-lampu neon yang mengiklankan pinkfilms di shibuya. Kalau pernah mungkin sedikit relate yah dengan pengalaman Scarlett Johansson ato Bill Murray di film Lost In Translation? He.. Mungkin sedikit. Film itu, dan judulnya, banyak mengambil tema alienasi yang kita rasakan meskipun sedang berada di tempat yang ramai dan “hidup”. Dan pada dasarnya itulah tema The Osaka Journals. Lo akan kaget bagaimana rasa sepi itu jauh lebih mencekam kalau kita lagi berada di sebuah kerumunan, dibanding kalau kita lagi sendiri di kamar yang gelap mendegarkan Disintegration dengan eyeliner hitam. Ok, kembali ke musik. Dari sound lo-fi indierock di The Osaka Journals, kamu melakukan great leap dengan membuat album remix di Tahun 2008 (L’internationale). Apakah hanya untuk mengisi waktu luang dan pemanasan sebelum album berikutnya? Rencana untuk merilis Internationale sebenarnya udah lama. Dari sekitar tahun 2006, kalau gak salah. Tapi karena beberapa hal jadi agak tertunda. Gue tahu kalau album kita berikutnya pasti jaraknya akan sedikit lama dari Osaka, dan album remix bisa jadi suatu jembatan yang multifungsi. Satu; bahwa Sajama Cut punya banyak akar musikal, dan bukan hanya jangly folk rock yang orang kenal. Kedua; kita bisa kerjasama dengan banyak musisi keren dari seluruh dunia dan secara otomatis akan mendapatkan influence-influence baru. Dan ketiga, untuk jadi projek label kita sendiri’ The Bronze Medal Recording Company yang pertama. Sebuah album remix bisa dijadikan bahan pembelajaran yang bagus untuk menjalankan sebuah label kecil. Setelah album L’Internationale ini, gue rasa kita punya kebebasan lebih untuk membuat lagu yang berbeda-beda tanpa terasa gak natural. Menurut saya di L’internationale lu banyak berkolaborasi dengan musisi elektronik 8-bit. Apa kamu mempunyai obsesi rahasia terhadap Nintendo dan sound-sound video game? Diluar unsur nostalgia sih, bisa dibilang gak. Gue suka dengan banyak artis chiptune, tapi untuk sekarang pengetahuan gue masih terbatas sama artis-artis nya yang udah dikenal seperti YMCK, Bit Shifter, dll. Ada juga beberapa komposer klasikal chiptune, kayak Jeroen Tel, Hirozaku Tanaka, dan Koji Kondo, yang gue suka. Tapi secara keseluruhan, musik berbasis elektronik yang gue suka lebih ke Whitehouse, Black Dice, Laika, Pram, dll – Completely hip and trendy indie-tronica. Kita banyak menggunakan remixer-remixer 8/16-bit terutama karena scene mereka sangat kuat, dan mereka relatif lebih ramah dan terbuka untuk kolaborasi. Hampir semua remix yang pertama selesai adalah dari musisi chiptune; YMCK, Boy Vs Bacteria, Sintecoraz, Super Multifaros, dll. Ini sebuah sub-kultur yang cukup fenomenal dan mulai naik, mudahan saja tidak menjadi emo yang baru. Hmm kolaborasi dengan musisi luar negri tentunya memiliki kendala dalam berkomunikasi dan jarak. Selain file-sharing, apa kamu menghabiskan banyak biaya lainnya? Lebih banyak ke unsur waktu sih. Banyak waktu dimana kita hanya bisa nunggu hasil remixnya, dan itu sangat frustrating, karena kita gak bisa berbuat apa-apa supaya prosesnya berjalan lebih cepat. Untuk biaya kirim mengirim, mungkin cuma ongkos kirim-kirim vynil musik-musik Indonesia lama dan tradisional yang kita kirim ke mereka sekedar untuk menunjukan appresiasi. Fin, Nemesis/Murder dan Fallen Japanese dibuatkan video artnya oleh Raquel Meyers, Hiroko Kosugi dan David Horvitz. Gimana ceritanya bisa berkolaborasi dengan mereka? Sama sebenarnya ceritanya dengan remixer-remixer. Gue banyak kenal video-video artist di Australia, dan network mereka lumayan luas. Waktu kita memutuskan untuk membuat video-video art untuk remix-remix ini, kita pikir; kenapa kita gak coba tanya aja teman-teman kita yang tertarik. Atau kalau mereka gak tertarik, teman-teman mereka pasti ada yang bisa diajak kerjasama. Khusus untuk David Horvitz, gue kenal dia dari kerjanya untuk Xiu Xiu. Dan karena gue anggota fans club Xiu-Xiu, gue pikir “kenapa gak coba tanya dia aja?”. Untungnya dia sangat responsif, dan dalam beberapa minggu kita review video-video art dia yang cocok dengan remix Fallen Japanese-nya Sawako. Raquel Meyers juga satu scene dengan Video Game Orchestra yang me-remix Fin. Gue gak tau banyak tentang Hiroko Kisugi selain dia video artist gila asal Jepang, yang selalu menggunakan arang untuk membuat stop motion-nya. Dia sekarang tinggal di London. Roots musik SC alt-rock dan lo-fi indierock. Punya album Wilco, Yo La Tengo, R.E.M. dan Guided By Voices favorit? Wilco – Being There, karena ini album pertama mereka yang gue beli. Dan waktu Uncle Tupelo bubar, gue terus terang jadi agak benci dengan alt-country. Yo La Tengo – Painful – album pertama YLT yang gue beli via mail order catalog Matador Records. Dan kalau lo pernah membeli sesuatu via mail order sebelum era internet, lo pasti tau gak ada yang bisa mengalahkan perasaan ngebuka paket itu, mencium bau vynil sleeve, dan memasang record player sambil ngebaca liner notes nya, setelah 2 bulan menunggu paket itu dengan gregetan. R.E.M – terlalu susah, tapi gue akan mensejajarkan Life’s Rich Pageant dan Document, dengan Up sedikit di belakang. GBV? Gue gak akan bisa memilih album favorit; the holy trinity tentu aja; Bee Thousand, Alien Lanes, dan Under the Bushes, tapi juga Do the Collapse, yang adalah album hi-fi pertama mereka, Propeller, Vamipre in Titus, Universal Truths and Cycles, Not in My Airforce-nya Robert Pollard, dan semua solo-nya Tobin Sprout. Koleksi Airport 5 juga sangat menghibur gue belakangan ini. Kalo sekarang lagi banyak dengerin apa nih? Minggu-minggu ini gue lagi banyak dengerin lagi koleksi Jandek era-era pertengahan. Band-band tipikal roots indie rock seperti Replacements, The Fall, dan The Feelies juga. Dan. The whole Slo-Core scene yang dulu sempet booming, kayak The New Year, Low, Codeine, Red House Painters. Ada box set bootleg Fela Kuti yang udah lama gue beli tapi baru sempat didengerin. Dan koleksi karya-karya nya Nino Rota, yang membuat musik untuk film-film kayak Godfather dan film-filmnya Franco Zeffirelli. Mix-CD untuk bulan ini termasuk Melt Banana, Diamanda Galas, Throbbing Gristle, Killdozer, Chrome, Silkworm, dan Polvo. Sangat Touch and Go Records. Berbicara mengenai trigger.. Kalau drugsnya ada ga? Apa aja nih drugsnya? Haha.. Sebesarnya apresiasi kita terhadap beberapa intoxicant tertentu, gue berusaha menghindari hal-hal yang mungkin bisa dinilai tipikal untuk anak band atau seniman-seniman jenis apapun. Baik karena itu terlalu klise, dan karena gue pribadi gak bisa melihat korelasinya, kecuali kalau seorang mau menjadi Jim Morrison atau siapa lah. Gue pribadi lebih memilih Ray Manzarek. Jadi, meskipun gue kadang menikmati absinthe, yang mungkin bagi beberapa orang termasuk alocoholic drugs, gue menjaga jarak hubungannya dengan musik Sajama Cut. Formasi SC sering gonta ganti ya. Apakah anda melihat sosok anda seperti musisi-musisi brilian yang galak, seperti, katakanlah.. Ahmad Dhani atau Brian Wilson? Ada sesuatu yang SANGAT salah dengan meletakan Achmad Dani di kalimat yang sama dengan Brian Wilson, apalagi membandingkan mereka. Hohoho. Let’s just say, Brian Wilson is a little higher on that pedestal. Gue rasa jawaban yang gue kasih akan selalu terdengar subjektif. Meskipun gue merasa bahwa hal-hal yang gue lakukan dalam Sajama Cut bukan karena ego tapi demi membuat karya seni sebagus mungkin yang bisa kita buat, ini akan terdengar lebih meyakinkan kalau yang menjawab adalah salah satu anggota band gue. Kita akui atau tidak, sebuah band dengan orang-orang yang sama memilki limitasi-limitasi tertentu. Itulah alasan mengapa banyak, bahkan band dimana semua anggotanya brilian seperti Pink Floyd atau The Beatles, akhirnya mengeluarkan album-album solo atau berkolaborasi dengan orang-orang lain. Format Sajama Cut memberikan kebebasan untuk membuat musik yang kita mau, dan jika itu berarti di lagu ini gue gak nyanyi, atau kita harus mencari gitaris yang bermain flamenco, atau kita butuh percussionist afro-beat, kita bisa melakukannya tanpa batasan sebuah “band” pada umumnnya. Saya dari dulu tertarik untuk mewawancara Ahmad Dhani. Kalau saya ketemu, kamu mau nitip pertanyaan apa buat dia?
[interview.aldy kusumah / photo.sajama cut docs / from ripple #62] |




