|
Bisa ceritakan sedikit tentang proses rekaman album “Curiouser & Curiouser”? Sangat eksperimental. Iyub benar-benar mengeksplorasi semua kemampuan dia dalam bidang sound engineering untuk menciptakan mixing dan recording se-idealis yang dia mau dalam rekaman album ini. Lamanya proses rekaman dikarenakan pengerjaan tiap materi yang sangat mendetail dan dilakukan dengan mencoba berbagai macam teknik baru untuk bisa mendapatkan sound yang unik. Eksperimen dengan ide-ide yang diluar pakem teknik dasar rekaman pun kerap terjadi pada proses rekaman; seperti ketika Iyub berhasil mendapatkan sound yang diinginkannya untuk sebuah lagu dengan cara merekam electric organ dengan menaruh microphone di tengah-tengah dua buah amplifier gitar yang diseting dengan rate tremolo berbeda dan diposisikan saling berhadapan; rekaman gitar menggunakan amplifier keyboard secara direct ke mixer untuk mendapatkan fuzzy noise.
Saat merekam vocal, Iyub mencoba menvisualisasikan aransemen vocal yang dibuat oleh gue dengan merekamnya menggunakan empat buah microphone yang berbeda tipe dan mensamplingnya dalam frekuensi yang sama dengan frekuensi gitar sehingga tercipta suatu harmoni yang bernuansa eerie. We love anything eerie, even when it sounds beautiful, but it has to be eerie. Just like being in a dream, we like it when our song has this surreal quality in it.
Instrumen apa saja yang kalian gunakan didalam penggarapan album ini? Banyak banget instrumen yang digunakan, rata-rata analog dan no midi apalagi midi softwares. Yang pasti kalo pas ngeliat kita manggung alat-alat yang ada dipakai semua plus alat-alat lain yang. ada di studio.
Saya dengar lirik dan tema lagu kalian banyak terinfluens oleh film-film karya Dario Argento dan Alfonso Cuaron. Saya tidak pernah habis pikir membayangkan film-film seperti “Suspiria” bisa memberi referensi untuk band seperti Santa Monica (and it’s a good thing!). coba ceritakan sedikit tentang proses masuknya influens-influens tersebut ke album kalian… Uhm, tema dan lirik sendiri nggak terinfluens secara langsung gitu, tapi film-film Dario Argento, terutama Suspiria, atau The Stendhal Syndrome tuh merupakan film favorit kita berdua, karena dari sisi sinematografi, warna tiap scene, setting, musik bisa memberikan suatu nuansa eerie, klaustrofobik dan ketegangan yang benar-benar mencekam, tapi tetap terlihat indah. Kita ngefans banget sama dia, because he’s so wicked, effin genius. Gore-nya dia tuh gimana ya, nggak yang bikin jijik..tapi bikin trauma, hehe. Dia lebih mainin emosi lewat visual dan musik sih, dan biasanya abis nonton filmnya Argento, sensasi ’nggak enak’ yang kena sampai di ulu hati –seperti abis mimpi buruk- will last for quite a long time. Persis kayak waktu abis nonton film Descent, Don’t Look Now, The Shining atau Rosemary’s Baby. Walaupun lirik dari lagu-lagu Santamonica sendiri nggak mengangkat tema horror, tapi gue dan Iyub pengen kesatuan dari lirik, musik, warna vokal dan aransemen musik kami bisa memiliki kualitas seperti film-film-nya Argento atau film animasi klasiknya Disney kayak Snow White atau Alice in Wonderland.
Seperti apa rasanya ngeband bareng pasangan hidup? Pokoknya nggak bakal bubar sampai maut menjemput.
Kalian mengakui banyak dipengaruhi musik bossanova. Punya album Astrud Gilberto favorit? Album sih nggak, karena kita juga dapatnya yang sudah bentuk kompilasi-kompilasi atau rilisan baru, tapi lagu favorit sih Samba With Me, Dindi, dan Certain Sadness.
Kalian sepertinya sangat terobsesi dengan masa depan suram Dystopia ala novel-novelnya Phillip K. Dick. Menurut kalian sudah tidak ada harapan lagi ya Negara kita? Haha.. Itu karena Dita hobi baca buku-buku macam ini. Waktu pelajaran bahasa Inggris di high school dulu, dia ’diperkenalkan’ sama film Blade Runner yang diadaptasi dari novel Philip K.Dick ”Do Androids Dream of Electric Sheeps”. Akhirnya jadi ketagihan dan suka, dan memang bikin kita banyak mikir sih, bahwa fear bisa digunakan sebagai alat mengontrol massa, humanisme tuh apa sih, dsb. Harapan untuk negara ini? Sebagian besar rakyatnya sih ingin pengen membuat perubahan tapi orang-orang yang memegang kekuasaan sepertinya sibuk dengan politiknya sendiri-sendiri. Urusan macet sama banjir dulu deh diurusin sampai tuntas, baru kita bisa punya harapan lagi sama pemerintah.
Maaf, bukan nya ingin membandingkan, tapi pas mendengar track “Wanderlust” saya langsung membayangkan Stereolab era “Emperor Tomato Ketchup”. Ada cerita menarik dibalik track itu? Nggak ada cerita menarik sih, cuma kita pengen feeling dari lagu itu menggambarkan orang lagi naik mobil sambil ngebut. Soal Stereolab, mungkin karena alat-alat yang kita pakai sama dengan yang dipakai oleh mereka. Tapi kita memang suka banget sama album itu.
Bagaimana scene Nu-rave menurut kalian? No longer emo-ed, now we’ve been new rave-ed!
Do you consider yourself as an Hipster? We don’t own the official uniforms of Hipster a.k.a shemagh scarves, so I guess we’re not. Har, har, har.
Apakah lagu Anais Lullaby kalian ada hubungan nya dengan penulis Perancis Anaïs Nin? Anais Lullaby dibuat untuk menyambut kelahiran anak pertama kita, yang namanya Anais Isobel. Nama Anais memang diambil dari nama Anaïs Nin, karena Dita tergila-gila oleh tulisan2nya dia. She (Anaïs Nin) can write something erotic in a beautiful way.
Lagu “Ribbons And Tie” sangat menarik, upbeat dan catchy dan sangat berbeda mood nya dengan “Better For Us Never” yang mempunyai layer-layer MBV-ish sekali… Sepertinya album ini jauh lebih moody disbanding EP 189 kalian… Memang benar. EP 189 lebih ceria dan easy listening karena awalnya kita nggak bermaksud membuat EP. Lagu-lagu di cd itu dibuat dan direkam untuk suvenir perkawinan kami. Lagu Serenade of Yellow Park adalah lagu pertama yang dibuat oleh kami berdua sebagai duo, sekitar tahun 2003. Please Say Yes adalah lagu lama buatan Iyub untuk proyek solo-nya: Showbiz, dan memang dibuat dengan maksud sebagai lagu untuk melamar cewek yang bakal jadi istrinya. Sought & Found itu dibuat seminggu sebelum cdnya diduplikasi. Makanya isinya cukup ceria, gila aja ngasih ke teman bokap-nyokap lagu yang sound gitarnya berlayer-layer, pusing nanti mereka. Karena banyak orang yang minta kita cepat-cepat rilis album, dan materi belum siap, akhirnya sisa suvenir itu (sekitar 500-an) dijadikan EP pertama kita. Ternyata cukup sukses dan sold out. Mood lagu-lagu di full album agak dark dan moody karena Iyub sendiri banyak terinfluens band-band seperti MBV, Blonde Redhead, dsb.. Kita nggak pernah merencanakan bahwa album ini bakal seperti apa musiknya, semuanya proses alami saat rekaman dan bikin lirik. Mungkin semakin dewasa makin pening sama hidup, dikeluarkannya ke musik.
Kemarin saya baru saja menonton film “Un Chien Andalou” nya Salvador Dali. Dan kabarnya kalian juga terinspirasi olehnya.. coba ceritakan.. Dita yang memperkenalkan ke gue film-filmnya Luis Bunuel (kolaborasi dengan Dali) seperti Un Chien Andalou atau Age D’or, I was instantly hooked. She first saw the film during her art class in high school, and the scene where a woman’s eyeball was cut open with a razor left a deep impression in her mind. Kenapa kita terinspirasi oleh film-filmnya Bunuel atau Dali? Hmm..kita suka simbolisasi, hal-hal yang mungkin nggak bisa diterima secara logika, spontanitas, dan karya mereka secara estetis. Ternyata setelah kita pikir-pikir, karya-karya kami punya kualitas yang mirip dengan apa yang mereka buat.
Saya dengan kalian adalah gamer juga ya? Ada beberapa game baru rekomendasi kalian? Iyub dulu suka banget main game, terutama RPG, trus pensiun karena kecewa sama endingnya Neverwinter Nights 2, trus nggak mau nyelesain Oblivion atau main game lagi. Kalo gue baru 2 tahun ini suka main game, itu karena dulu sebel liat Iyub yang suka autis kalo udah main game, trus ceritanya mau bales dendam gitu, tau-taunya malah ketagihan. Game rekomendasi Dita (karena Iyub udah pensiun): Nancy Drew: White Wolf of Icicle Creek, Wedding Dash dan Chocolatier.
Wah gue juga lagi maen Nancy Drew tuh! Oh ya, ngomong-ngomong Siapa yang mengerjakan cover-art dan fotografi di album ini? Cover art yang mengerjakan Dibyokusumo. Semenjak kerjasama pertama kita untuk klip Anais Lullaby, kita langsung cocok, benar-benar satu pikiran deh. Akhirnya cover kita serahin ke dia, dan puas banget. Fotografi yang bikin Christian Joey, teman baik kita, desainer handal tuh dia. Klip Wanderlust yang bikin juga Dibyokusumo dimana dia bakal kerja sama dengan Anton Ismael.
Ada pengalaman menarik selama bermain musik di Santa Monica? Iyub: Lost temper pada saat manggung. Dita: Pas main di acara Riot on Air, ada beberapa anak laki datang dan nunjukin pin Santamonica buatan mereka sendiri. Foto di pin itu digunting sama dia dari artikel tentang Santamonica di satu majalah musik. Terharu dan termotivasi untuk bikin merchandise secepatnya. Pada bonus CD rencananya ada beberapa remix yang dikerjakan juga oleh Jaeger Boy Transistor yah? Coba ceritakan awal mula proses kerjasama tersebut.. Aduh, sepertinya nggak jadi kerjasama ini, karena Gustaff (Jaeger Boy Transistor, owner Common Room) sibuk dengan proyek dia yang menang IYCMEI Award itu. Awalnya kita memang minta ke mereka untuk remix lagu Santamonica, dan mereka setuju, tapi karena kesibukan dia sepertinya dipending dulu. In the future kita sih pengen banget kalo mereka bisa ngeremix lagu-lagu kita. They’re fucking talented.
Klip kolase Anais Lullaby kalian yang di-direct oleh Dibyo Kusumo dan kover album kalian terlihat sangat surreal. Sebenarnya apa hubungan nya dengan lagu nya sendiri? Ide klip datang dari Dita karena dia memang sukanya hal-hal yang surreal dan whimsical gitu. Dia maunya klip yang nggak harus ada cerita, mungkin kalo divisualkan seperti mimpi, nggak harus ada awal atau ending. Dia juga suka banget ilustrasi buku anak-anak klasik gitu, kayak ilustrasinya Arthur Rackham gitu, dan karena musiknya sendiri pas gue bikin influencenya adalah lagu-lagu soundtrack film animasi klasiknya Disney, ya udah kita mau visualnya jadi seperti itu; whimsical tapi nggak kekanak-kanakan. Saat kita lihat portfolio Dibyo, ternyata dia yang paling bisa menerjemahkan keinginan kita. Hubungan sama lagunya? Uhm, nggak ada sih..memang nggak harus berhubungan kan? Nggak semua hal harus ada hubungannya, yang penting visual dari klip atau artworks cover bisa sesuai dengan nuansa lagunya and can compliment each other.
[interview.aldy kusumah / photo.c. joey-sanmon docs / from ripple #57]
|