| Telefon Tel Aviv | | Print | |
| INTERROGATIONS & INTERVIEWS | |
|
Yah, hal seperti itu sangat berjalan pada proses kreatif kita. Kita pikir banyak orang bakal setuju dengan kita. Beberapa orang memang membuat musik ketika perasaannya sedang depresi. A: Apa kalian setuju jika band kalian disebut “Laptop RnB” seperti yang banyak dikatakan oleh para jurnalis musik? Yah, nggak apa-apa. Karena kita memang membuat rekaman seperti itu. Tapi kita bakal membuat sesuatu yang berbeda lain kali saat rekaman. Karena kita selalu mengkonsep saat mau bikin album, dan itu selalu berbeda dalam tiap album. A: Kita lihat di Youtube kalian gunain software Ableton buat bikin suara glitch nya yah? Tidak, kita pakai software Ableton buat bikin sound glitch hanya saat kita tampil live di panggung aja. Kalau sedang rekaman kita bikin suara glitch secara analog. Kita gunain kayak reactor, pro tools, microphone, dengan berbagai proses. A: Kalo kalian disuruh ngeremix lagu orang lain, kalian akan memilih siapa? Josh: Aduh, saya nggak tahu siapa nih. Belum kepikiran nih untuk saat ini. Kalo disuruh milih, kalian lebih milih manggung di venue kecil seperti bar dan club atau venue besar macam festival musik seperti Coachella? Kita nggak peduli mau manggung di mana asalkan sound sistemnya bagus dan enak banget. Kita selalu memilih venue dengan sound sistem yang bagus banget. Sebenernya kalau kita maen, lampu dimatikan juga gapapa. Kalian cukup menikmati saja sambil tertawa, relax atau sekedar menjadikan musik kami sebagai pelengkap atau ambience saja. kita gausah dipedulikan dan ditonton, we don’t want to be your central attraction. Pertanyaan terakhir nih, lagu terbaik yang kalian pilih saat pemakaman kalian? Josh: Wow, pertanyaan menarik. Biar saya berpikir dulu. Oh yah mungkin saya bakal memilih Melancholia II dari William Basinski. [Interview.aldy kusumah / photo.st jadoon / from ripple #58]
|




It’s pretty weird talking and laughing with some strangers you’ve just met in an apartement complex. I interviewed Charles Cooper & Joshua Eustis with my friend, Idhar Resmadi the day before the show at Bandung. Kalo enggak salah, besoknya mereka akan manggung di Eldorado Bandung, seminggu sebelum tahun baru 2008. Setelah kegirangan karena LP “I Lied” saya ditandatangani oleh kedua musisi dibalik Telefon Tel Aviv, saya lama tidak mendengar kabar mengenai mereka lagi. Januari 22, 2009, Joshua Eustis menulis di Myspace Telefon Tel Aviv bahwa Charles sudah meninggal, dan menurut hasil otopsi: “an accidental mix of sleeping pills and alcohol”. Well, it’s really weird meeting someone when the next news you hear about them is when they’re dead. Godspeed & Goodluck Charles!